Penyergapan Pertama, Bedebah Harus Mati
28 oktober 1928.
Kongres Sumpah Pemuda kedua. Dihadiri oleh
pemuda Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, di
Jakarta. Diketuai oleh Sugondo Djojopuspito dengan wakilnya R.M. Djoko Marsaid,
menghasilkan sumpah yang terdiri dari tiga hal penting, yaitu_____
BOOM!
Aku terperenjat kaget. Buku yang sedang aku
baca terjatuh. Sampul yang awalnya sudah setengah koyak sekarang benar-benar
terlepas. Buku lama, pantas rentan rusak, pikirku. Kemarin aku menemukannya di
gudang saat sedang beres-beres, ditumpukan paling bawah diantara kardus-kardus
lembab. Halaman depannya sudah dimakan rayap tapi masih bisa dibaca beberapa
halaman pertengahannya. Entah darimana aku mendapatkan buku ini sebelumnya.
Perhatianku tersita sejenak. Berusaha
mencari tahu sumber ledakan yang membuatku terkejut beberapa detik lalu.
Terlihat kepul asap hitam yang membumbung tinggi dikejauhan. Lamat-lamat aku
mendengar suara sirine pemadam kebakaran dan ambulans yang meraung kencang
membelah jalanan kota. Sebulan terakhir berita mengenai kebakaran bangunan
sudah menjamur dikota ini. Macam-macam faktor dan alasannya. Entah yang
disebabkan karena listrik yang korslet, meledaknya gas elpiji, atau sesederhana
kelalaian manusia. Macam-macam headline yang ditulis pada laman berita,
baik di surat kabar maupun berita televisi.
Aku mengambil buku itu, lalu menyimpannya.
Selera membacaku hilang, padahal baru satu paragraf yang aku baca setelah
kemarin-kemarin lepas memungutnya dan baru malam ini sempat kubaca, maka aku
memutuskan untuk melanjutkannya besok.
*****
Lapangan Balai Kota.
Hari ini akan diadakan upacara memperingati hari penting sesuai dengan keputusan wali kota minggu lalu. Pukul 07.53, sudah hampir satu jam aku berada disini. Kejadian semalam hampir membuatku lupa untuk datang lebih awal dari jam upacara dimulai. Untung salah satu temanku, Raharja Pramoedya, mengingatkan pagi-pagi sekali bahwa aku harus datang tepat waktu sesuai dengan jam yang telah disepakati pada rapat Sabtu pekan lalu. Walaupun aku bangun kesiangan setidaknya aku masih sempat bersiap-siap meski pada akhirnya aku tetap menjadi orang yang datang semi terakhir sebelum temanku lainnya, Budi Daniswara, yang katanya terlambat karena tidur hanya beberapa jam saja. Aku tanya padanya, apa yang terjadi. Jawabannya membuatku terkesiap. Ia menjelaskan mengenai kejadian semalam mengenai ledakan kencang yang ternyata terjadi disalah satu kantor administrasi yang gedungnya baru selesai direnovasi dua bulan yang lalu.
“kamu sudah melihat judul berita pagi ini di televisi?” aku menggeleng. Aku yang datang terlambat mana sempat menyetel televisi dan menyempatkan diri untuk menyaksikannya. Aku curiga kalau ia sengaja berangkat telat karena menyempatkan diri hanya untuk melihat headline berita pagi ini. Ia kemudian melanjutkan kalimatnya, bilang bahwa judulnya sama dengan berita kebakaran sebelum-sebelumnya ‘Kebakaran Di Kantor Administrasi Diduga Karena Korsleting Listrik’, awalnya aku mengabaikan ucapannya karena terdengar sangat monoton. Tidak ada bedanya dengan judul berita sebelum-sebelumnya. Sebelum sempat aku mengatakannya ia melanjutkan lagi.
“jangan salah sangka dulu, Candra. Kemarin
aku mencari tahu betul tentang kronologi kejadian itu. Dan usut punya usut,
kejadian itu bukan serta merta disebabkan korsleting listrik. Kamu harus tahu,
aku semalaman mencari tahu dan merangkaikan kejadian kemudian menyimpulkan
bahwa ada pihak yang memang merencanakan membakar gedung tersebut. Kemudian
mengenai ledakan kencangnya, ternyata dilantai paling bawah, sebut saja basement,
ada yang sengaja meletakkan bom disana yang menyebabkan gedung yang baru
selesai direnovasi itu gompal setengah. Aku melihat ramai sekali wartawan yang
mengerubungi gedung itu, mencari seseorang yang bisa ditanyai. Bahkan ada yang
salah mewawancarai, mereka mewawancaraiku. Aku menjawab saja bahwa aku tidak
tahu apa-apa. Aku hanya orang yang tidak sengaja melewati tempat kejadian saat
peristiwa itu terjadi.” Budi terkekeh pelan, memotong ceritanya sejenak lalu
melanjutkannya lagi.
“setelah itu aku menguping wawancara antara
wartawan dengan petugas keamanan dikantor itu, mereka bilang mereka juga tidak
tahu. Mereka rasanya sudah memeriksa seluruh lantai, memastikannya aman.
Entahlah aku rasa mereka tidak becus melakukannya, kurang memeriksanya secara
detail. Jika aku yang bekerja disana, aku akan memastikan gedung itu aman. Jika
mereka bekerja seperti itu, maka sama saja mereka memakan gaji buta. Berang
sekali aku melihatnya.” Aku mengangguk-angguk setuju. Dahiku mengernyit heran, percakapan
ini terasa ganjil isinya.
Aku melirik jam dipergelangan tanganku.
Lima belas menit lagi upacara akan segera dimulai. Lapangan balai kota itu
tampak semakin ramai oleh peserta upacara yang berdatangan. Dari siswa-siswi
Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, sampai santri pondok pesantren yang ditilik
dari penampilannya, sepagi ini mereka pasti terburu-buru dengan mandi dan
berpakaian seadanya. Aku mengundurkan diri dari percakapan, bilang kepada Budi
aku akan mengarahkan peserta upacara dahulu, obrolannya bisa dilanjut
nanti-nanti.
Satu kata terbesit dalam pikiranku mengenai
obrolan dengan Budi barusan, bom. Jika memang itu faktor utama yang menyebabkan
gedung kantor itu terbakar, wartawan seharusnya tidak perlu menutup-nutupinya.
Lagipula bagi kami yang notabennya hanya penduduk awam yang tidak mengerti
mengenai masalah-masalah seperti itu, terlepas dari masalah politik, palingan
rusuhnya hanya sementara, setelahnya tidak ada yang peduli.
Mas Cahyo memanggilku, bilang kalau peserta
upacara harus segera disiapkan, maka aku mengiyakan. Aku mulai meneriaki
mereka. Menyuruh mereka untuk segera membentuk barisan. Sepuluh menit peserta
upacara telah siap, begitupun dengan petugasnya. Mulai mengambil posisi masing-masing,
termasuk aku, dengan Bapak Hardiyata Widodo sebagai pembina upacara.
“kerja bagus, Candra. Sepertinya selepas
pulang dari sini kamu akan mendapatkan bonus tambahan. Aku jadi iri, sejak
setelah rapat Sabtu kemarin kamu banyak bekerja, seperti tahu betul apa
tugasmu.” Gurau salah satu temanku, Kuswan Bramantya. Aku hanya tertawa,
kemudian kembali fokus. Kami tidak menyadari bahwa kegembiraan kami hari ini
tidak akan bertahan lama.
*****
Perih sekali rasanya, entah sampai kapan
mereka akan berhenti memukuliku. Yang aku rasakan sekarang hanya rasa asin,
seperti ada sesuatu yang mengalir dari hidung dan sudut bibirku. Pipi dan
rahangku susah sekali digerakkan, sakit tidak karuan. Aku tidak tahu siapa
mereka, tiba-tiba menahan dan membentakku. Sebenarnya mereka hanya meminta satu
hal saja padaku, namun aku menolak keras permintaan mereka. Mereka tidak
segan-segan mengancam dan memukuliku.
“sepertinya tidak mudah membujukmu dengan
cara halus maupun kasar seperti yang telah kami lakukan padamu. Aku kagum padamu
karena memiliki prinsip sekokoh itu, tidak mudah diruntuhkan meski kami sudah
bertindak berlebihan padamu. Yasudahlah, lepaskan dia. Biarkan saja, mari pergi
dari sini.” Aku samar-samar mendengarnya tertawa sinis, meninggalkan rumahku.
‘Jangan Sekali-Kali Meninggalkan
Sejarah’ begitu
kata Soekarno dalam pidatonya pada Hari Ulang Tahun RI tahun 1966. Kalimat itu
terus terngiang dikepalaku. Seperti kaset rusak yang terus mengulang kejadian
yang sama berkali-kali. Mengenai sekelompok orang yang merangsek masuk
kerumahku, sesederhana keinginan kami yang hanya ingin memperingati hari
penting bagi bangsa Indonesia, namun mereka menentang keras, tidak suka,
meminta kami membatalkan acara yang sudah kami rancang dan mutlak dilakukan
pekan depan, dengan iming-iming bayaran yang besar. Keinginan mereka jelas
bertentangan dengan keinginanku, pantas jika mereka marah ketika permintaannya
ditolak mentah-mentah.
Setelahnya ketika aku berkumpul dengan
temanku, mereka tertawa keras mengolok-olok luka lebam diwajahku. Bertanya
darimana aku bisa mendapatkan luka itu, terlihat keren katanya. Aku hanya
menyengir lebar dan tidak menjawab. Terlebih karena aku tidak ingin mereka tahu
tentang orang-orang asing yang tiba-tiba masuk kerumahku dan memukuliku.
“jadi bagaimana posternya? Apakah sudah
selesai? Mas Cahyo sudah menagih terus padaku. Jika belum selesai juga, akan
ditukar dengan yang lain katanya.” Kuswan memberi tahu.
“ditukar dengan apa?” aku menimpali.
“ditukar dengan poster milik kelompok lain
yang sudah selesai sejak beberapa hari yang lalu. Kata Mas Cahyo, mereka mampu
bekerja lebih cepat, setidaknya kita mampu belajar dari mereka.”
“Mas Cahyo selalu seperti itu. Padahal aku
yakin sekali kalau milik kita jelas akan lebih bagus daripada milik mereka.” Budi
bersungut-sungut tidak terima.
“sebentar aku ambilkan dahulu.” Aku
beranjak dari dudukku. Mengambil poster yang baru jadi semalam dari dalam
kamarku lalu membawanya keruang tengah, tempat dimana mereka sedang berkumpul.
“wah, ternyata sudah betulan jadi. Kamu
hebat, Candra.” Janu terkekeh senang.
‘Kemajuan Suatu Bangsa Terletak Pada
Genggaman Pemuda’ begitulah tagline yang
pernah kami diskusikan bersama. Kami terilhami oleh sambutan singkat Gilang
Mahardika, salah satu rekan Mas Cahyo, pada rapat panitia pekan kemarin.
Sambutan singkat oleh Mas Gilang yang menggebu-gebu membuat semangat kami
terbakar, walaupun pada akhirnya tidak bertahan lama. Paling lama dua hari.
“yasudah kalau begitu. Nanti sore aku akan
membawanya kepada Mas Cahyo, agar besok-besok tidak ada lagi alasan untuk
memarahi kita.” Begitu kata Budi. Setelahnya teman-temanku berpamitan. Kuswan
pulang paling terakhir
“aku tahu kamu tidak menceritakan apa yang
sebenarnya terjadi, kawan.” Kuswan menatapku prihatin, memukul bahuku pelan,
lalu menyusul teman-teman yang lain.
*****
Isi sumpah pemuda dibacakan “Kami putra dan
putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.” Tepat saat
petugas selesai membacakan isi sumpah pemuda yang ketiga, terdengar ledakan
kencang dari barisan belakang peserta upacara, upacara terjeda sejenak.
Terlepas dari keterkejutan kami, kami lebih penasaran dari mana sumber suara
tadi. Kepala-kepala menoleh memastikan. Belum sempurna kami melihat, menyusul
ledakan selanjutnya. Orang-orang berteriak histeris. Ramai-ramai segera
membubarkan barisannya sendiri.
BOOM! Tiga. BOOM! Empat. BOOM! Lima. Enam.
Tujuh. Tanah-tanah merekah. Gedung balai kota hancur, gompal sebagian. Satu dua
terlempar, bahkan lebih banyak kendaraan yang rusak, tangkinya bocor, meledak.
Sisanya berteriak mencari perlindungan. BOOM! Meledak lagi. Lebih banyak yang
terkena dampaknya. Mungkin sebagian ada yang tewas ditempat atau luka bakar
berat. Aku lari ikut menyelamatkan diri, tidak sempat memikirkan hal itu. Bukan
karena aku tidak punya rasa kemanusiaan. Hei, siapa pula yang akan memikirkan
keselamatan orang lain ketika keselamatan diri sendiri saja terancam. Aku yang
awalnya bingung sejak mendengar ledakan pertama, mulai paham ketika terdengar
suara ledakan susulan. Awalnya suara hanya dari belakang barisan peserta
upacara, lama-lama menyusul kedepan.
Lapangan balai kota tempat kami mengadakan
upacara porak-poranda. Tiang bendera roboh. Padahal baru beberapa menit yang
lalu kami mengibarkan bendera merah putih diatasnya, diiringi lagu kebangsaan
Indonesia Raya yang didengarkan secara khidmat oleh seluruh peserta upacara.
BOOM! Ledakan kesekian berada sepuluh meter
didepanku. Aku masih sempat berlari menghindar. Tidak lama aku mendengar suara
tembakan yang dilepaskan begitu saja beberapa meter dibelakangku. Apa yang
terjadi? Rasanya baru beberapa jam yang lalu aku bangun dari tidur, tidak
terpikir bahwa aku akan menghadapi situasi seperti ini sekarang. Sepertinya
dibelakangku korban sudah mulai berjatuhan. Teriakkan mereka memekakkan telinga,
menambah pengap suasana balai kota pagi ini. Aku harus segera pergi dari sini.
Persetan dengan nasib teman-temanku. Nasibku sendiri harus aku pikirkan.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! Lagi-lagi suara
peluru itu mampu membuatku gentar. Aku menyelinap diantara kerumunan orang yang
lari tunggang langgang. Sial! Aku terjatuh, kakiku terinjak orang yang
berdesak-desakan ingin keluar dari lapangan balai kota. Belum sempurna aku
berdiri, kakiku tertembak. Darah mulai merembes melewati celana kain yang
sedang aku gunakan. Aku meringis kesakitan. Aku menggeleng kencang, menahan
rasa sakit. Aku harus pergi dari sini, aku tidak boleh mati. Aku memaksakan
diri untuk bangun. Baru saja aku berdiri, seseorang memukul wajahku, kuat
sekali hingga membuat kesadaranku hilang. Suara teriakan mulai terdengar
samar-samar. Orang yang memukulku tadi menyeret kasar tubuhku, membawa masuk
kedalam mobil jeep yang sejak tadi terparkir tidak jauh dari lapangan. Sebelum
kesadaranku hilang, aku sempat melihat setidaknya ada tiga orang yang berada
satu mobil denganku. Salah satunya perempuan. Entahlah mungkin aku salah liat.
Mata dan mulutku dibebat kain, kencang sekali. Seseorang yang memegang kemudi
mulai menyalakan mesin. Mesin mobil menggerung pelan, lalu aku merasakan mobil
ini telah bergerak menjauhi lapangan balai kota. Entah akan dibawa kemana aku
nantinya. Aku tidak bisa melihat apapun selain gelap, lengang.
*****
Kesadaranku mulai kembali. Aku tidak lagi
merasakan duduk diatas kursi mobil seperti sebelumnya. Aku meraba kursi yang
sedang aku duduki, kayu. Tanganku terikat dibelakang kursi. Ish! Rasanya sakit
sekali. Tidak bisakah mereka mengendurkan ikatannya? Lagipula aku tidak
punya ide sama sekali tentang bagaimana caranya aku bisa kabur dari tempat ini
dengan kondisi terikat dan mata terbebat kain seperti ini. Pastilah yang
menyekapku bukanlah orang yang punya belas kasih. Jangan-jangan hewan
peliharaannya pun diperlakukan seperti ini olehnya, pikirku. Aku mulai
meraba sekitar siapa tahu menemukan sesuatu.
Kursi kah ini? Aku mengernyitkan dahi. Sepertinya tidak hanya aku yang berada
dalam ruangan ini. Aku berdehem pelan, memperbaiki posisi duduk.
“Candra, kamukah itu?” aku kenal suara itu.
“jawab Candra.” Aku terdiam sejenak.
“Candra.”
“iya.” Aku tidak salah lagi, suaranya aku
kenal persis. Budi, Janu, Gilang, entahlah siapa lagi.
“bagaimana kamu bisa berada disini?” tanya
Budi.
“bagaimana dengamu juga?” aku balik
bertanya. Budi hanya terkekeh. Aku tidak habis pikir dengannya. Bahkan dalam
kondisi seperti ini saja ia mampu terdengar santai. Terdengar helaan napas
pelan.
“entahlah, tidak ada yang tahu, Candra.
Kamu saja bingung, tidak tahu apa-apa, apalagi aku.” Kami semua tertawa.
“bagaimana nasib yang lain?” aku bertanya
setelah tawa kami reda.
“yang lain siapa yang kamu maksud?” Janu
menimpali.
“siapa lagi memangnya kalau bukan teman
kita.”
“Kuswan? Itukah yang kamu maksud?”
“siapa lagi memangnya kalau bukan Kuswan?”
aku mengernyitkan dahi, bingung.
“siapa tahu kamu menanyakan yang lain, Dian
Astamurti misalnya.” Gilang menjawab sembarangan. Tawa mulai pecah di dalam
ruangan itu.
“kalian memang suka menganggu orang lain.”
Suara tawa kami seketika berhenti ketika kami mendengar suara pintu dibuka.
Suaranya terdengar ngilu karena bergesekan langsung dengan lantai, sepertinya
pemiliknya lama tidak memberi pelumas pada engselnya, dibiarkan berkarat.
Suara langkah kaki terdengar mengisi
ruangan. Siapa?, pikirku. Mungkin teman-temanku memikirkan hal yang
sama. Satu, dua, tiga. Berhenti. Begitu lagi. Sepertinya orang yang baru saja
masuk memang sengaja melakukannya. Pikirnya mungkin dapat menakut-nakuti kami.
Aku tidak dapat melihat apapun, hanya gelap. Kain yang membebat mataku belum
terlepas. Tidak ada yang bisa melepaskannya. Minta tolong Budi, Janu, atau
Gilang pun tidak bisa, pasti mereka mengalami hal serupa denganku. Aku mulai
menerka-nerka siapa yang masuk. Andaikata tanganku tidak terikat seperti ini,
mungkin aku akan menjadi orang pertama yang akan memukul keras wajah orang yang
menyekap kami. Setidaknya orang yang menyekap kami tidak menyumpal mulut kami
layaknya film-film penculikan yang sering kami tonton bersama lalu korbannya
akan dibunuh dan dibuang, kejam sekali memang.
“sudah membicarakan Dian Astamurti nya?”
tunggu, aku kenal suaranya.
“bagaimana tadi? Kalian bertanya mengapa
kalian bisa berada disini?” orang itu tertawa yang menurutku terdengar sumbang,
jelek sekali. Ia melanjutkan lagi.
“mudah saja, aku yang membawa kalian
kesini. Seandainya kalian menurut padaku, tentu kalian tidak akan pernah berada
ditempat ini, bukan? Baiklah aku tidak akan membahas itu, mungkin akan membuat
kalian teringat sesuatu.” Lanjutnya. Aku jengah mendengar basa-basinya, mengapa
ia tidak terus terang tentang apa yang ia inginkan saja tanpa harus mengurung
kami seperti ini? Ia melangkah pelan, berdiri tepat dibelakang kursi kami.
“Candra!” terdengar suara Janu yang
mengeluh tertahan. Aku penasaran sekali apa yang terjadi padanya. Budi pun
sama. Gilang yang tadi memberontak, mendadak terdiam. Apa yang dilakukan
orang itu pada teman-temanku? Belum genap aku berpikir, bebat dimataku
mulai terasa mengendur. Apakah kami akan dibebaskan? Mataku
mengerjap-ngejap pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk, sangat silau
karena terlalu lama dibebat.
Satu hal yang membuatku tersentak hampir
mengumpat. Didepanku berdiri seorang laki-laki, wajah khas jawa dan senyum yang
terasa menyebalkan sejak beberapa detik yang lalu. Sial! Rasanya aku ingin
menghantam wajahnya sekarang juga.
“Kuswan!” mereka berseru hampir bersamaan,
Budi yang paling keras teriaknya.
“dasar bedebah sialan!”
“mati kamu!” mereka berseru-seru tidak
terima. Kami merasa dikhianati. Lima tahun mengenal Kuswan Bramantya, kami
pikir dia seorang yang bersih, tidak terlibat aksi politik atau kelompok
pemberontak lainnya yang akhir-akhir ini sering terjadi, setidaknya terdapat
enam pemberontakan yang pernah terjadi dikota ini.
“ya begitulah aku. Harusnya kalian tidak
terlalu percaya denganku, begitu juga aku. Aku tidak pernah terlalu percaya
dengan kalian. Kalian bodoh. Kalian tahu tentang kebakaran sebulan terakhir?
Aku salah satu penyebabnya, termasuk yang terjadi di kantor administrasi kota
kemarin. Yang terjadi di lapangan balai kota pun sama. Sebenarnya tidak hanya
aku, tapi aku tidak mau memberitahu.” Kuswan tertawa keras. Suaranya memenuhi
langit-langit ruangan.
“sudah aku tidak mau banyak memberitahu.
Silahkan kalian menerka-nerka dan mengambil kesimpulan sendiri. Beritahu aku
jika kalian menemukan informasi penting, aku bersedia mendengarkan kalian.
Sampai jumpa.” Kuswan melangkah keluar sambil melambaikan tangannya.
“dimana Mas Cahyo dan yang lain!?” Gilang
berseru.
“kamu tidak perlu mencemaskan mereka, kawan!” suara Kuswan terdengar samar karena ia sudah melangkah keluar. Pintu ruangan ini kembali berderak, membuat ngilu. Sepuluh detik pintu ruangan sempurna tertutup. Lengang. Tanda tanya besar mengungkung kepala kami masing-masing. Kuswan memang bedebah!
Created by : Aghniya Alfatani XII MIPA 2

